Kebudayaan Makassar yang tidak akan luntur terkikis zaman

Kebudayaan Makassar yang tidak akan luntur terkikis zaman – Makassar ialah suatu kota yang terletak di provinsi sulawesi selatan. Makassar familiar dengan sekian banyak macam kebudayaan.salah satunya yakni Tari Pakarena ialah tarian tradisional dari makasar, Sulawesi Selatan, Indonesia. Pada abad 20, tari ini terbit dari tradisi istana dan menjadi peragaan populer. Ia biasanya dipentaskan di sebanyak acara, laksana pernikahan, ritual penyembuhan dan sunatan. Tari ini paling energik, terkadang begitu hingar bingar oleh musik, tetapi diiringi oleh tarian yang paling lambat lemah gemulai dari semua penari perempuan muda. Dua kepala drum (gandrang) dan sepasang instrument perangkat semacam suling (puik-puik) mengiringi dua penari.di samping tarian terdapat pun busana adat tradisional. busana adat adalahsalah satu aspek yang lumayan penting. Bukan saja bermanfaat sebagai penghias tubuh, tetapi pun sebagai kelengkapan sebuah upacara adat. Yang dimaksud dengan busana adat di sini ialah pakaian inilah aksesori yang dikenakan dalam sekian banyak upacara adat laksana perkawinan, penjemputan tamu, atau hari-hari besar adat lainnya. Pada dasarnya, eksistensi dan pemakaian busana adat pada sebuah upacara tertentu bakal melambangkan kemuliaan upacara tersebut sendiri.

Melihat kelaziman mereka dalam berbusana, sebetulnya dapat disebutkan bahwa busana adat Makasar menunjukkan kesamaan dengan busana yang biasa digunakan oleh orang Bugis. Meskipun demikian, ada sejumlah ciri, format maupun corak, busana yang khas milik penyokong kebudayaan Makasar dan tidak dapat diserupakan dengan busana kepunyaan masyarakat Bugis.

Pada masa dulu, busana adat orang Makasar dapat mengindikasikan status perkawinan, bahkan pun status sosial pemakainya di dalam masyarakat. Hal itu diakibatkan masyarakat Makasar terbagi atas tiga lapisan sosial. Ketiga strata sosial tersebut ialah ono karaeng, yaitu lapisan yang ditempati oleh kerabat raja dan bangsawan; tu maradeka, yaitu lapisan orang merdeka atau masyarakat kebanyakan; dan atu atau kelompok para budak, yaitu lapisan orangorang yang kalah dalam peperangan, tidak dapat membayar utang, dan yang melanggar adat. Namun dewasa ini, busana yang digunakan tidak lagi menggambarkan suatu status sosial seseorang, tetapi lebih mengindikasikan selera pemakainya.

Sementara itu, menurut jenis kelamin pemakainya, busana adat Makasar pasti saja dapat dipisahkan atas busana lelaki dan busana wanita. Masing-masing busana itu memiliki ciri khas tersendiri, busana adat lelaki dengan baju bella dada dan jas tutunya sementara busana adat perempuan dengan baju bodo dan baju labbunya.

Busana adat lelaki Makasar terdiri atas baju, celana atau paroci, kain sarung atau lipa garusuk, dan tutup kepala atau passapu. Baju yang dikenakan pada tubuh unsur atas berbentuk jas tutup atau jas tutu dan baju belah dada atau bella dada. Model baju yang tampak ialah berlengan panjang, leher berkrah, saku di kanan dan kiri baju, serta diberi kancing yang tercipta dari emas atau perak dan dipasang pada leher baju. Gambaran model itu sama guna kedua jenis baju pria, baik guna jas tutu maupun baju bella dada. Hanya dalam urusan warna dan bahan yang digunakan ada perbedaan salah satu keduanya. Bahan guna jas tutu seringkali tebal dan berwarna biru atau coklat tua. Adapun bahan baju bella dada terlihat lebih tipis, yakni berasal dari kain lipa sabbe atau lipa garusuk yang polos, berwarna cerah dan gampang kelihatan seperti merah, dan hijau.

Khusus guna tutup kepala, bahan yang biasa dipakai berasal dari kain pasapu yang tercipta dari serat daun lontar yang dianyam. Bila tutup kepala pada busana adat lelaki Makasar dihiasi dengan benang emas, masyarakat menyebutnya mbiring. Namun andai keadaan kebalikannya atau tutup kepala tidak berdandan benang emas, pasapu guru sebutannya. Biasanya, yang mengenakan pasapu guru ialah mereka yang berstatus sebagai guru di kampung. Pemakaian tutup kepala pada busana pria memiliki makna-makna dan simbol-simbol tertentu yang menggambarkan satus sosial pemakainya.

Kelengkapan busana adat lelaki Makasar yang tidak pernah lupa guna dikenakan ialah perhiasan laksana keris, gelang, selempang atau rante sembang, sapu tangan berdandan atau passapu ambara, dan dekorasi pada penutup kepala atau sigarak. Keris yang senantiasa digunakan ialah keris dengan kepala dan sarung yang tercipta dari emas, dikenal dengan sebutan pasattimpo atau tatarapeng. Jenis keris ini adalahbenda pusaka yang dikeramatkan oleh pemiliknya, bahkan bisa digantungi sejenis jimat yang dinamakan maili. Agar keris tidak gampang lepas dan tetap pada tempatnya, maka diberi pengikat yang dinamakan talibannang. Adapun gelang yang menjadi perhiasan semua pria Makasar, seringkali berbentuk ular naga dan tercipta dari emas atau dinamakan ponto naga. Gambaran busana adat lelaki Makasar menyeluruh dengan seluruh jenis perhiasan laksana itu, terlihat jelas pada seorang lelaki yang sedang menggelar upacara pernikahan. Lebih tepatnya dikenakan sebagai busana pengantin pria.

Sementara itu, busana adat perempuan Makasar terdiri atas baju dan sarung atau lipa. Ada dua jenis baju yang biasa dikenakan oleh kaum wanita, yaitu baju bodo dan baju labbu dengan kekhasannya tersendiri. Baju bodo berbentuk segi empat, tidak berlengan, sisi samping kain dijahit, dan pada unsur atas dilubangi guna memasukkan kepala yang sekaligus pun adalahleher baju. Adapun baju labbu atau disebut pun baju bodo panjang, seringkali berbentuk baju kurung berlengan panjang dan ketat mulai dari siku hingga pergelangan tangan. Bahan dasar yang kerap dipakai untuk menciptakan baju labbu laksana itu ialah kain sutera tipis, berwarna tua dengan corak bunga-bunga. Kaum perempuan dari sekian banyak kalangan manapun dapat mengenakan baju labbu.

Pasangan baju bodo dan baju labbu ialah kain sarung atau lipa, yang tercipta dari benang biasa atau lipa garusuk maupun kain sarung sutera atau lipa sabbe dengan warna dan corak yang beragam. Namun pada umumnya, warna dasar sarung Makasar ialah hitam, coklat tua, atau biru tua, dengan dekorasi motif kecilkecil yang dinamakan corak cadii.

Sama halnya dengan pria, perempuan makasar juga memakai sekian banyak perhiasan guna melengkapi tampilan busana yang dikenakannya Unsur perhiasan yang ada di kepala ialah mahkota (saloko), sanggul berhiaskan bunga dengan tangkainya (pinang goyang), dan anting panjang (bangkarak). Perhiasan di leher antara beda kalung berantai (geno ma`bule), kalung panjang (rantekote), dan kalung besar (geno sibatu), dan sekian banyak aksesori lainnya. Penggunaan busana adat perempuan Makasar yang menyeluruh dengan sekian banyak aksesorinya tampak pada busana pengantin wanita. Begitu pula halnya dengan semua pengiring pengantin, melulu saja perhiasan yang dikenakannya tidak selengkap itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *