Memahami Jenis Pengobatan Khas Suku Bajo

pengobatan khas suku Bajo

Memahami Jenis Pengobatan Khas Suku Bajo

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak sekali keanekaragaman budaya, salah satunya pada masyarakat suku Bajo. Banyak yang kurang mengenal pengobatan khas suku Bajo dengan berbagai prosesinya yang unik.

Berada di daerah wakatobi-Sulawesi Tenggara, suku ini banyak bermukim di sekitar perairan Wangi-wangi atau wanci, bajo sampela, lohoa dan Mantigola bermukim di perairan Kecamatan Kaledupa, sedangkan Bajo Lamanggu bermukim di perairan kecamatan Tomia.

Suku ini memiliki rumah dan tinggal di atas air, kehidupan mereka sangat dekat dengan laut. Bagi masyarakat suku bajo, laut merupakan kehidupan mereka. Tempat meniti dan mempertahankan hidup serta mewariskan budaya leluhur suku tersohor di Sulteng.

Mengenal Tradisi Duata sebagai Pengobatan Khas Suku Bajo

Warisan leluhur yang sampai dengan saat ini masih dilestarikan masyarakat suku bajo diantaranya dalam aspek kesehatan. Untuk pengobatan, suku bajo memiliki tradisi khas yang dinamai Tradisi Duata.

Tradisi Duata ini merupakan suatu ritual yang dilakukan suku Bajo untuk penyembuhan penyakit secara tradisional yang dapat dilakukan sewaktu-waktu Ritual Duata ini dilakukan apabila diantara kerabat suku bajo ada yang menderita sakit keras dan tidak dapat lagi diobati atau disembuhkan sekalipun melalui pengobatan medis.

Namun tidak sebatas sebagai pengobatan saja, tradisi duata juga dilakukan dalam acara syukuran dan hajatan sebagai penghargaan terhadap penguasa laut yang mereka sebut Mbo Janggo atau Mbi Gulli.

Memahami Tata Pelaksanaan Ritual Duata

Ritual ini dilaksanakan di tengah laut, dengan melarungkan sesajian berupa beras aneka warna serta pelengkap ritual lainnya yang telah diramu oleh sejumlah tetua adat. Mayoritas tetua adat suku Bajo merupakan perempuan lanjut usia.

Orang sakit yang akan diobati juga ikut sertta dibawa menuju laut dengan diiringi lagu masyarakat suku bajo, yaitu Lillingo. Lagu tersebut dinyanyikan dengan iringan tabuhan gendang serta barisan berjumlah delapan orang gadis.

Para gadis yang mengiringi tersebut memakai pakaian adat sambil menari tarian Ngigal khas suku Bajo. Dimaksudkan dalam pengobatan khas suku Bajo untuk menambah semangat para penunggu, pasien dan tentuya keluarga yang berharap kesembuhannya.

Tidak hanya barisan delapan gadis dengan pakaian adat yang menari Ngigal, namun semua peserta ritual duata juga harus menari dengan maksud memberikan semangat kepada orang yang sakit.

Menurut kepercayaan masyarakat suku Bajo, bahwa seseorang diantara mereka menderita sakit keras maka sebagian semangat hidupnya telah diambil kemudian dibawa ke laut oleh saudara kembarnya, dan sebagian lainnya dibawa naik ke langit ketujuh oleh Dewa.

Prosesi ritual ini dimaksudkan untuk mengambil kembali semangat hidup orang yang sakit tersebut. Sehingga nantinya pasien akan semangat melawan penyakitnya diiringi saudara kembarnya yang mendampingi prosesi tersebut.

Setelah prosesi pelarungan, orang yang sakit masih akan melaksanakan beberapa prosesi pengobatan dengan mandi Mayah. Masyarakat suku Bajo percaya, Mayah berguna untuk membersihkan diri dari penyakit serta dapat mengusir roh jahat.

Selain itu juga dilakukan prosesi pengikatan lengan orang yang sakit oleh tetua adat menggunakan benang yang konon dibawa oleh tujuh bidadari dari langit ke tujuh untuk digunakan sebagai obat.

Tetua adat dapat mengetahui orang yang sakit tersebut masih bisa sembuh atau tidak, hal ini diketahui dari benang yang sebelumnya tersimpan dalam cangkir. Selanjutnya adalah prosesi yang dilakukan untuk menguji kesembuhan.

Prosesi ini menggunakan keris yang sekaligus berguna untuk menguji mental orang yang sakit. Selain menggunakan keris, pengujian kesembuhan juga dilakukan dengan cara mengadu dua ekor ayam jantan.

Apabila ayam orang yang sakit itu menang, maka dipercaya orang sakit tersebut telah sembuh. Sebaliknya, ketika dikalahkan oleh lawannya maka akan tercipta pengobatan harus berjalan seperti sedia kala.

Itulah tradisi duata yang sampai saat ini masih diwariskan secara terus menerus oleh masyarakat suku bajo. Tradisi pengobatan khas suku Bajo ini sejatinya sebagai bukti keberagaman adat dan budaya yang ada di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *