Mengenal Suku Buton Si Pemilik Mata Biru

suku buton

Mengenal Suku Buton

Suku Buton merupakan salah satu suku di Indonesia  yang menempati wilayah Sulawesi Tenggara, tepatnya di kepualuan Buton. Suku Buton juga dapat ditemui di berbagai daerah lainnya, misalnya di Maluku Utara, Kalimantan Timur, Maluku dan Papua. Untuk mengenal suku buton, Anda mungkin bisa mengunjungi daerah tersebut. Seperti kebiasaan masyarakat Sulawesi, Suku Buton juga suka merantau dan merupakan suku pelaut, mereka merantau ke pelosok nusantara menggunakan perahu kecil dengan kapasitas lima orang saja.

Suku Buton juga terkenal dengan peradabannya yang tinggi, ada banyak peninggalan yang masih dapat ditemui di wilayah kesultanan Buton. Diantaranya Benteng Keraton Buton yang dikenal sebagai benteng terbesar di dunia. Ada juga istana Malige yang merupakan rumah adat tradisional Buton. Rumah adat ini memiliki ketinggian empat tingkat dan uniknya bisa berdiri kokoh tanpa menggunakan paku.

Salah satu keunikan dari warga Suku Buton lainnya yaitu memiliki mata berwarna biru cerah. Baru-baru ini media kembali digemparkan oleh seorang anak bermata biru. Bernama lengkap Fardan Ramadhan, berasal dari Desa Boneatiro, Kecamatan Kapuntori, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Disebutkan bahwa mata biru tersebut disebabkan karena kelainan genetik yang disebut dengan Waardenburg Syndrome. Informasi lain menyebutkan bahwa hal ini merupakan faktor keturunan, dimana Suku Buton pernah disinggahi bangsa Eropa pada masanya.

Tradisi Suku Buton

Sama seperti kebanyakan suku di Indonesia, Suku Buton pun kaya akan tradisi dan adat istiadat yang senantiasa dipelihara oleh masyarakatnya. Mari mengenal suku buton lebih dekat dengan mengetahui berbagai tradisinya.

Tradisi Maritim

Tradisi Maritim di Buton telah dilakukan sejak abad 14. Para leluhur Suku Buton mengelilingi samudera menggunakan perahu sope-sope. Mereka menggunakan perahu khas Buto bertenaga angin dan menghinggapi setiap bandar, lalu kembalike kampung halaman

Ritual dole-dole

Tradisi yang lain yaitu dole-dole merupakan selamatan bayi yang diyakini sebagai imunisasi alamiah. Ritual ini dipimpin oleh sang Disyah atau dukun adat yang dimulai dengan mendengarkan petuah-petuah dari Disyah. Orang Buton percaya bahwa ritual ini menjamin kebaikan masa depan anak.

Ritual ini digelar serentak,  biasanya dilakukan pada bulan Rajab, Sa’ban, dan setelah hari raya Idul Fitri. Pada saat pelaksanaan ritual ini, suasananya sangat ramai ditambah lagi ketika bayi menangis bersautan satu sama lain.

Pelaksanaan ritula ini umumnya menggunakan telur, daun pisang dan minyak kelapa. Telur diyakini dapat mempermudah dalam menemukan jodoh kelak ketika si bayi telah dewasa. Adapun daun pisang bermakna sebagai harapan agar si bayi selalu diberi kesehatan dan dijauhkan dari penyakit.

Tradisi Posuo

Ketika beranjak dewasa, tradisi Pasuo diperuntutkan bagi gadis-gadis Suku Buton yang harus menjalani proses warisan kesultanan Buton yang juga dikenal dengan istilah pingitan. Tradisi ini lahir pada awal masuknya islam di Buton. Tidak boleh satupun gadis menolak melakukan tradisi yang telah dilakukan nenek moyang suku Buton. Pasuo dilakukan oleh anak gadis yang mulai beranjak dewasa dan mulai merasakan datang bulan (haid).

Pelaksanaannya cukup rumit, gadis tersebut harus dikurung di dalam kamar selama 8 hari, selama itu tidak diperkenankan dilihat dan melihat kaum lelaki. Peserta pasuo hanya boleh bertemu dengan dukun yang memimpin upacara.  Ketika mereka hendak beraktifitas di luar kamar, gendang akan dibunyikan agar orang di luar bisa waspada. Dengan mengikuti pasuo, sang gadis kini dinyatakan telah siap dipinang atau mekakukan pernikahan.

Pelaksanaan ritual ini terbagi menjadi tiga tahapan. Pertama, sesi ini disebut dengan Pauncura dan pengukuhan. Pada tahap ini dilakukan pembakaran kemenyan oleh dukun yang disertai dengan pembacaan doa. Setelah doa selesai, dilanjutkan dengan panimpa yaitu sapuan asap kemenyan ke seluruh tubuh peserta Pasuo. Kemudian parika mengumumkan nama-nama peserta pasuo, sekaligus memberitahu kepada peserta dan keluarga bahwa mereka akan diisolasi dari dunia luar.

Tahap kedua disebut Bhalyi Yana Yimpo atau mengubah penampilan setelah ritual berjalan selama tiga hari. Pada sesi ini, peserta mengubah posisi tidur. Tadinya kepala sebelah selatan dan kaki sebelah utara menjadi kepala di barat dan kaki di timur.

Baca Juga:

Tahap ketiga disebut Matana Kariya yang dilakukan tepat pada malam kedelapan. Ritual yang dilakukan adalah memandikan seluruh peserta menggunakan wadah Bhuso dan didandani menggunakan pakaian Aju Kalambe oleh dukun. Pada tahap ini juga terdapat pemukulan gendang sebagai ujian kesucian bagi peserta. Jika dalam pemukulan gendang tersebut terdapat gendang yang pecah, maka hal ini menandakan bahwa diantara peserta posuo tersebut ada yang sudah tidak perawan.

Itulah sekilas tentang suku buton yang kaya akan tradisi dan kebudayaan yang perlu diketahui dan dijaga bersama  sebagai warga negara yang baik. Mengenal suku buton akan menyadarkan kita betapa kayanya Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *