Mengenal Lebih Dekat Suku Korowai di Pedalaman Papua

Suku Korowai Papua

Selain dikenal akan kekayaan flora dan faunanya, Papua juga terkenal dengan keberagaman suku dan budayanya yang menarik. Salah satunya adalah Suku Korowai yang terletak 150 km dari Laut Arafura. Jika ditelusuri lebih dalam, suku ini memiliki sejarah yang cukup panjang sejak awal penemuannya hingga saat ini. Namun sayang, tidak banyak yang mengetahui asal-usul suku ini sepertinya, maklum saja, suku yang mendiami pedalaman Papua ini memang agak sulit ditemukan. Tidak hanya itu, Suku Korowai juga disebut-sebut tidak pernah berkomunikasi dengan dunia luar. Keberadaan suku ini baru ditemukan sekitar 40 tahun silam oleh misionaris Belanda Johanes Veldhuizen di pedalaman Papua.

Keunikan Suku Korowai

Bahasa yang biasa digunakan oleh Suku Korowai adalah Bahasa Awyu-Dumut yang merupakan bagian dari filum Trans-Nugini. Bahasa ini juga biasa digunakan oleh berbagai suku di Papua Tenggara. Suku Korowai juga umumnya bertahan hidup dengan cara berburu di hutan. Namun tidak hanya itu saja, mereka juga tidak biasa menggunakan koteka alias pakaian untuk menutup kemaluan laki-laki.

Keunikan lainnya dari Suku Korowai adalah mereka yang tinggal di atas pohon yang tinggi, oleh karenanya Suku Korowai terkenal akan tradisi mereka yang memiliki rumah pohon. Rumah yang mereka bangun pun bukan hanya sebatas beberapa meter saja dari permukaan tanah, melainkan bisa mencapai 15-50 meter di atas pohon. Hal ini bertujuan untuk melindungi diri dari serangan binatang buas serta risiko banjir. Rumah pohon yang dibuat oleh Suku Korowai pun memiliki pengerjaan yang cukup detail. Dimulai dari pemilihan bahan, serta menentukan pohon mana yang hendak digunakan sebagai penopang utama. Hal ini tidak bisa sembarangan asal pilih, umumnya mereka memilih pohon yang besar dan untuk dijadikan tiang utama, sementara dindingnya terbuat dari kulit pohon sagu.

Rumah orang Korowai juga biasanya terbuat dari tali rotan yang dipilin dengan akses tangga yang panjang hingga ke tanah. Tidak sampai di situ saja, mereka memilih dedaunan hutan sebagai atapnya serta cabang pohon untuk lantainya. Pembuatan rumah pohon ini umumnya bisa memakan waktu sekitar 7 hari pengerjaan, hal ini disebabkan lantaran mereka masih berpegang teguh pada adat istiadat leluhurnya, sehingga Suku Korowai biasanya akan melakukan ritual malam terlebih dahulu sebelum membangun rumah pohon, hal ini bertujuan untuk mengusir roh-roh jahat. Sementara untuk ketahanannya sendiri, rumah pohon hanya mampu bertahan selama 3 tahun saja. Hal ini bisa dimaklumi lantaran bahan yang mereka gunakan pun hanyalah bahan-bahan alami, sehingga rawan lapuk dan keropos.

Suku Korowai biasanya akan melakukan perayaan berupa pesta sagu untuk menyambut peristiwa-peristiwa penting seperti kelahiran atau pernikahan. Dalam pesta ini, mereka akan menyembelih daging babi sebagai hidangan sekaligus pertanda bahwa ada peristiwa yang patut untuk dirayakan.

Baca Juga:

Rumor Bahwa Suku Korowai Adalah Kanibal

Rumor lainnya yang beredar tentang Suku Korowai adalah sebutan mereka sebagai suku kanibal, agak menyeramkan memang, tapi hal ini juga menarik perhatian dunia akan suku yang satu ini. Namun setelah ditelusuri lebih jauh, mereka ternyata tidak memakan daging manusia untuk kebutuhan sehari-hari. Mereka hanya memiliki ritual memakan daging manusia yang melanggar aturan mereka, seperti tukang sihir misalnya. Sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa kanibalisme adalah bagian dari hukum adat mereka bagi orang yang terbukti melakukan perbuatan jahat atau terlarang. Ritual ini pun kini semakin jarang terjadi dan mulai ditinggalkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *