Menilik Keunikan Sejarah Tumbilotohe di Gorontalo

sejarah Tumbilotohe di Gorontalo

Menilik Keunikan Sejarah Tumbilotohe di Gorontalo

Keberadaan sejarah Nusantara menjadi kajian menarik untuk dibahas, apalagi jika dikaitkan dengan edukasi. Kini, dari daratan Celebes menyajikan daerah menarik dengan sejarah Tumbilotohe di Gorontalo yang sangat memukau ketika dijajaki tapak historisnya.

Menurut informasi lapangan bahwa tradisi adat ini memiliki keunikan layaknya di Dieng atau Jogjakarta ketika tahun baru. Namun, pelaksanaannya justru tepat pada bulan Ramadhan sebelum menginjak ke Hari Raya Idul Fitri.

Walau begitu, tidak kalah meriahnya dengan daerah lain sehingga menciptakan keunikan tersendiri ketika melihatnya. Bagaimana keunikan sejarahnya dan masyarakat yang ikut serta di dalamnya?

Mengenal Lebih Dalam Tradisi Tumbilotohe

Secara kajian etimologis, dijelaskan dalam referensi terkait, Tumbilotohe berasal dari dua kata yakni Tumbilo yang berarti pasang dan Tohe diartikan sebagai lampu dalam bahasa Gorontalo. Ketika digabungkan kurang lebih menjadi pemasangan lampu.

Apakah lampu yang dipasang adalah lampu umum yang ada di daerah setempat? Ternyata bukan lampu yang biasa digunakan di rumah, tetapi menggunakan botol bersumbu layaknya obor. Ada makna sendiri ketika pengadaan alat tersebut yang dekat dengan mendamba cahaya Allah.

Pada sejarahnya menyatakan bahwa sudah dilaksanakan sejak abad 15, dimana pemasangan lampu obor ini hanya berfungsi sebagai penerang. Namun kendati demikian, banyak yang meyakini bahwa ini merupakan salah satu bentuk pensyukuran kepada Tuhan.

Mengkaji sejarah Tumbilotohe di Gorontalo ini pastinya memuat beberapa makna di dalamnya. Selain bentuk syukur, masyarakat Gorontalo juga menganggap ini sebagai ajang hiburan pelepasan bulan Ramadhan berganti dengan bulan Syawal.

Menurut referensi terkait dijelaskan bahwa masyarakat setempat biasa melantunkan pantun layaknya adat Betawi. Pantun tersebut dinamakan Lohidu, kemudian bersamaan dengan pemasangannya di kerangka kayu dilengkapi hiasan yang disebut Alikusu.

Alikusu ini terbuat dari daun kelapa muda atau yang lainnya, tetapi ada makna tersendiri ketika dijadikan sebagai hiasan pada tradisi tersebut. Kerangka yang disusun untuk gantungan lampu ternyata memiliki lambang kesejahteraan, ditambah dengan tebu bermakna ramah dan mulia.

Pemasangannya memang dominan di beberapa tempat tinggal warga, ada juga menghias bangunan megah atau masjid di sekitarnya. Lampu obor tersebut sangat indah ketika menjelang malam, Anda bisa melihat ketakjubannya ketika waktu Maghrib tiba.

Potret Tradisi Tumbilotohe di Mata Pengunjung

Sejak kemeriahan tradisi ini banyak mengundang wisatawan lokal sejak tahun 2007, bahkan adanya festival tahunan menjadi penggaet pelancong mancanegara yang berdatangan. Sebab lokasinya sangat dekat dengan Bunaken, maka tidak heran jika banyak yang mendatanginya.

Destinasi wisata budaya ini menambah list liburan Anda ketika memiliki rencana pergi ke Sulawesi Utara, tidak hanya keindahan alam bawah laut dan pegunungannya namun dapat mempelajari sejarah besar tradisi Tumbilotohe di Gorontalo.

Berdekatan dengan Bitung, Minahasa dan sekitarnya, memang menjadi favorit ketika datang ke Sulawesi Utara. Adapun Bunaken dan beberapa pulau kecil yang indah menjadi tujuan utama, tetapi jangan lewatkan untuk mampir sejenak di kota penuh sejarah ini.

Tepatnya pada tahun 2007 silam, tradisi Tumbilotohe ini menyandang gelar rekor MURI. Ini disebabkan pemasangan lima juta lampu menghiasi kota Gorontalo sekaligus tempat strategisnya. Hal ini yang membuat takjub banyak orang untuk menjajaki wisata budaya ini.

Menurut cerita kemarin saat pandemi, bahwa perayaan ini tidak berlangsung meriah seperti biasanya. Hanya dipimpin oleh seorang imam, Gubernur Gorontalo beserta jajarannya, dengan mengumandangkan doa dan memimpin pemasangan lampu berlangsung sederhana.

Namun tidak menyurutkan semangat menjaga budaya leluhur. Kemudian hal lainnya mengedukasi generasi muda bahwa ada sejarah Tumbilotohe di Gorontalo yang mesti dipacu dengan konsep kreatif. Harapan singkat para tetua tersebut menutup perayaan tersebut.

Momentum seperti ini layak diapresiasi bahkan terus dilestarikan, sebab sangat besar maknanya guna Gorontalo sebagai penerang dan sejarah Tumbilotohe di Gorontalo tidak mudah padam di jiwa masyarakatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *