Sejarah Aceh , sampai penjajah meninggalkan Aceh

Sejarah Aceh – Aceh dikenal sebagai sebuah propinsi yang diberi berpredikat Istimewa. Dia distimewakan dalam bidang agama, adat dan pendidikan. Oleh pemerintah pusat, dia diberi hak untuk memakai nama, Propinsi Daerah Istimewa Aceh, berdasarkan Keputusan Perdana Menteri R.I. No. 1/Missi/1959. Sebagaimana diketahui bahwa sebelum tahun 1959, berbagai persoalan tentang status daerah ini telah menjadi problema yang berlarut-larut. Pada permulaan Kemerdekaan, dia berstatus sebagai sebuah propinsi dengan kepala pemerintahannya adalah seorang Gubernur Militer.

Baca : Mengenal Suku Buton Si Pemilik Mata Biru

Sejarah Aceh – Tetapi kemudian dalam rangka penciutan daerah-daerah propinsi agar lebih menjadi sedikit jumlahnya, tahun 1951 daerah Aceh dimasukkan ke dalam propinsi Sumatera Utara, dan kepadanya diberi status sebagai daerah Keresidenan, dibawah pimpinan seorang Residen. Rupa-rupanya rakyat Aceh berusaha untuk mendapatkan pengakuan pemerintah, agar dijadikan kembali daerah ini sebagai daerah propinsi. Dengan Missi Perdana Menteri Hardi tersebut terjelmahah kehendak rakyat untuk mendapatkan kembali status propinsi dengan sekaligus memperoleh predikat “Istimewa”.

Sejarah Aceh – Dilihat dari sudut perjalanan sejarah, daerah Aceh ini selalu mengalami keadaan yang mengesankan, karena sejak dahulu pergolakan terus berlangsung, seakan-akan tanpa putus-putusnya. Keadaan ini mula-mula berlangsung setelah satu kerajaan terkuat di Aceh, dimana pimpinannya Iskandar Muda meninggal dan dia diganti oleh raja-raja putri. Ketika Safiattudin, pengganti Iskandar Muda memerintah keadaan negara masih terjamin, namun setelah dia meninggal, kerajaan sedikit menurun kewibawaannya, karena pertentangan dari dalam sendiri dan mulai mendapat pengaruh dari luar. Kejadian ini berakhir sampai datangnya Kolonial Belanda dalam tahun 1873.

Baca : Pesona Wisata Pantai Labombo Palopo

Datangnya Belanda, menyebabkan timbulnya persatuan, dikalangan fungsional dan rakyat di kawasan ini dan bersama menghadapi musuh baru yaitu serdadu-serdadu Belanda. Perjuangan rakyat secara fisik seakan akan telah berakhir dalam tahun 1903, setelah Belanda menguasai Aceh secara de jure, namun sebenarnya secara de facto kekuasaan Belanda tidak pernah terjelma secara sempurna. Pemberontakan pemberontakan di pelosok-pelosok daerah pedalaman Aceh tetap ber-kobar, sampai datangnya Jepang dalam tahun 1942.

Mula mula rakyat Aceh menganggap Jepang sebagai Kawan dalam mengusir penjajahan Belanda, tetapi rupa-rupanya Jepang pun tidak lama kemudian memperlihatkan sikap yang sama sebagai penjajah. Rakyatpun melakukan penyerangan kepada Jepang dan usaha itu berakhir sampai Indonesia mencapai Kemerdekaan dalam tahun 1945. Kalau kita kaji-kaji asal mula nama “Aceh”, rupa-rupanya nama ini telah ada sejak lama dan tercantum dalam kitab kitab lama seperti sejarah Melayu, Aceh diberi nama waktu itu dengan Lam Muri. Marco Polo, seorang saudagar dari Venesia yang singgah di Peureulak dalam tahun 1292, menyebut Aceh dengan Lambri. Kemudian orang Portugis mempergunakan nama Akhir untuk menyebut Aceh dan orang Belanda meyebutkan dengan Akhin, sedangkan orang Aceh, sejak dahulu telah menyebut daerahnya dengan Aceh .

Baca : Mengenal Lebih Dekat Suku Korowai di Pedalaman Papua

Berdasarkan nama tersebut itulah, rakyat daerah ini mempertahankan existensinya. Dalam perjalanan Sejarah selanjutnya daerah ini dianggap yang pertama masuknya Islam dan tempat mula-mula berdirinya kerajaan Islam pertama. di Indonesia yaitu di Pasai dan Peureulak sekitar abad ke 13.

Pengaruh agama dan kebudayaan Islam begitu besar sehingga Aceh kemudian mendapat julukan sebagai Seeuramoe Mekkah, (serambi Mekkah). Perpaduan agama Islam dan Adat telah mengikat rakyat dalam suatu ikatan yang amat kuat. Perpaduan ini telah melahirkan pedoman dalam bentuk pembahasan dalam bahasa Aceh, sejak Pemerintahan Iskandar Muda dalam abad ke 17, yaitu “Hukom ngon adat, lagee zaat ngon sifeut”, artinya “Hukum dengan adat, sebagai zat dan sifatnya”. Hukum disini maksudnya hukum agama dan mempunyai hubungan erat sekali dengan adat.

Paham dan praktek agama Islam sangat mempengaruhi kehidupan rakyat sampai sampai pada perjuangan melawan Belanda; jiwa keagamaan merupakan landasan pokok. Rakyat berjuang mengalahkan Belanda di Aceh dengan gigih, karena mereka beranggapan bahwa Belanda sebagai kafir, yang bagi umat Islam, harus dilawan dengan pengorbanan jiwa dan harta. Mati melawan Belanda berarti mati Syahid. Sikap inilah yang menyebabkan Aceh hampir sama sekali lepas dari cengkeraman Belanda.

Kesempatan berkuasanya Belanda di Aceh dalam Praktek perjuangan politik terutama di daerah-daerah yang aman di kota, telah membawa kultur baru, terutama dalam bidang pendidikan. Pendidikan modern telah memberi pengaruh bagi sistim pendidikan agama. Pendidikan agama dipesantren, telah berubah menjadi pendidikan agama dengan sistem Sekolah dan sekaligus memasukkan pengetahuan umum dan bahasa Belanda, dalam pendidikan agama. Berdirinya sekolah Mandini di Idi, Normal School di Bireuen, Diniah di Blang Paseh (Sigli) dan Jadam di Montasik, sekitar tahun 1930, membuktikan adanya pengaruh pendidikan Barat (Belanda) dalam sistem pendidikan agama di Aceh.

Pendudukan Jepang kurang meninggalkan pengaruh di Aceh karena masanya yang pendek selama 31/2 tahun, dan di-tambah pula sifatnya Jepang yang amat bertolak belakang dengan nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat Aceh. Kemerdekaan telah memberi warna baru bagi masyarakat ini. Unsur kebebasan ini telah terlaksana sebagai dicita-citakan. Terbuka-nya daerah Aceh kepada dunia luar telah menyebabkan unsur-unsur kebudayaan luar masuk, unsur kebudayaan tetangga masuk melalui jaringan komunikasi yang semakin lancar, terutama ke daerah pesisir, tapi kurang terasa ke daerah pedalaman. Kebudayaan Barat masuk pula ke kota-kota. Di samping unsur positip yang masuk, terdapat juga unsur negatifnya, seperti hubungan muda-mudi yang terlalu bebas, menyebabkan konflik antara generasi tua dengan generasi muda.

Boleh dikatakan kebudayaan Aceh telah mengalami percampuran dengan kebudayaan luar sejak berabad yang lalu, sampai sekarang, sehingga unsur kebudayaan asli hampir sama sekali tidak dapat kita kenal. Dapat pula dikatakan bahwa mereka banyak menerima pengaruh luar, sejauh tidak bertentangan dengan paham agama yang mereka anut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *