Sejarah Awal Siri’ dan Pacce yang jarang orang tau

Sejarah Awal Siri’ dan Pacce yang jarang orang tau

Sejarah Awal Siri’ dan Pacce – Siri’ na pacce merupakan kebiasaan yang sudah melembaga dan diandalkan  oleh suku Makassar, maka untuk membicarakan lebih lanjut mengenai falsafat itu perlu ada riset dan pengkajian mengenai sejarah dan konsep siri’ na pacce yang terdapat pada suku Makassar semenjak zaman dahulu. Suku Makassar yang menempati sebagian distrik Sulawesi Selatan adalah penduduk pribumi yang telah mempunyai pranata kebiasaan tersendiri, jauh sebelum sah lahirnya kerajaan Gowa yang adalah kerajaan dari Kawasan Timur Indonesia yang memiliki pengaruh yang lumayan besar. Kerajaan Gowa dibuka ketika kehadiran Tumanurunga di Takakbassia Tamalate, menurut atas perjanjian pemerintahan antara Tumanurunga dengan Sembilan Kasuwiang yang kira-kira terjadi pada tahun 1300 M.[10]

Baca Juga : Tiga tempat wisata jogja

Untuk mencari sejarah mengenai siri’ na pacce, maka tulisan-tulisan tentang pandangan hidup atau petuah-petuah itu dapat anda lihat pada artikel lontarak. Adapun sejarah lahirnya huruf lontarak ialah diciptakan oleh Daeng Pamatte saat ia diperintahkan oleh Karaeng Tumapakrisik Kallonna didasari oleh keperluan kerajaan guna dapat berkomunikasi secara tulis mencatat dan supaya peristiwa-peristiwa kerajaan dapat disalin dalam tulisan.

Walaupun sejarah suku Makassar mulai terdaftar pada masa Karaeng Tumapakrisik Kallonna, namun kebiasaan siri’ telah menjadi adat istiadat dan pandangan hidup hidup mereka semenjak dahulu. Adapun pandangan suku Makassar mengenai siri’ dapat anda lihat dari sejumlah istilah yang sehubungan dengan siri’.

Berikut ini sejumlah istilah mengenai siri’ dan maknanya, antara lain: sirik (siri’) sebagai harga diri atau kehormatan; mappakasiri’, dengan kata lain dinodai kehormatannya; ritaroang sirik (siri’), dengan kata lain ditegakkan kehormatannya; passampo sirik (siri’), dengan kata lain penutup malu; tomasiri’na, dengan kata lain keluarga pihak yang dinodai kehormatannya; sirik (siri’) sebagai perwujudan sikap tegas demi kebesaran tersebut; sirik (siri’) sebagai pengakuan sikap tidak serakah (mangowa); sirik (siri’) naranreng, dengan kata lain dipertaruhkan demi kehormatan; siriksirik (siri’-siri’), dengan kata lain malu-malu; palaloi siriknu (siri’nu), dengan kata lain tantang yang melawan; passirikia, dengan kata lain bela kebesaran saya; napakasirikka (napakasiri’ka),artinya saya dipermalukan; tau tena sirikna (siri’na), dengan kata lain orang tak terdapat malu, tak terdapat harga diri.[11]

Selain tersebut dalam artikel lontarak ada petuah-petuah atau ungkapan-ungkapan yang berkaitan dengan konsep siri’, antara lain:

  1. Siritaji nakitau, dengan kata lain hanya siri’, maka kita disebut manusia. Maksudnya seseorang yang tidak memiliki siri’, maka ia tidak ada dengan kata lain sebagai insan (layak dinamakan binatang), sebab sikap orang yang tidak memiliki siri’ laksana perbuatan hewan (tidak punya malu).
  2. Sirikaji tojeng, siritaji tojeng, dengan kata lain hanya siri’lah yang benar. Maksudnya perasaan siri’ atau malu sebab melakukan tindakan yang tercela, urusan tersebut dirasakan benar oleh hukum manapun (agama, adat dan negara).
  3. Karaeng, siri’ kuji ki atai, dengan kata lain Tuanku, melulu karena siri’ maka tuan memperhamba saya. Maksudnya status (status sosial) seseorang sangat memprovokasi sikap orang beda dalam kehidupan sosialnya.
  4. Punna taenamo siri’ku, manna kupannobokangki, taenamo nalantanglantang, dengan kata lain manakala tidak terdapat lagi siri’ ku, maka sekalipun aku menikamkan kerisku untuk tuan, tidaklah menjadi dalam lagi. Maksudnya bilamana seseorang telah tidak mempunyai perasaan malu, maka orang tersebut telah tidak mempunyai kebesaran dan kekuatan di hadapan orang lain.
  5. Kaanne buttaya Gowa majarremi nikasirikang, dengan kata lain bahwasanya negeri Gowa ini sudah ditekadkan untuk membela siri’. Maksudnya bahwa kerajaan Gowa atau distrik Gowa merupakan wilayah yang paling menjunjung dan menghargai pandangan hidup siri’.[12]

Dalam pemahaman masyarakat Suku Makassar, kejayaan dan kehormatan suatu negeri bergantung untuk empat urusan pokok, yakni adat kelaziman (Ada’), persamaan hukum (Rapang), undang-undang (Bicara), aturan tentang strata sosial (Wari), dan aturan syariat Islam (Sara). Ada’ sebagai pranata sosial yang menata segala aspek kehidupan dan kehidupan dan tata kelakuan paling dihormati, dijunjung tinggi dan dijaga dengan teguh. Begitu pentingnya ada’, maka untuk masyarakat suku Makassar, segala pengabaian terhadapnya dirasakan sebagai pengkhianatan terbesar dan oleh karena tersebut perlu mendapat ganjaran yang setimpal, sering wujud ganjaran tersebut berupa pembunuhan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *