Wayang Kulit Dimata Indonesia dan Dunia

Wayang kulit di mata indonesia dan dunia

Wayang Kulit Dimata Indonesia

Wayang kulit ialah seni tradisional Indonesia, yang khususnya berkembang di Jawa. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang pun menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan jawa yang dimainkan sekelompok yaga (penabuh gamelan) dan tembang (lagu) yang dinyanyikan oleh parasinden (penyanyi). Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yakni layar yang tercipta dari kain putih, sedangkan di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong), sehingga semua penonton yang sedang di sisi beda dari layar bisa melihat bayang-bayang wayang yang jatuh ke kelir.

Untuk bisa memahami kisah wayang (lakon/judul), pemirsa harus mempunyai pengetahuan bakal tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar.

Secara umum wayang mengambil kisah dari naskah Mahabarata danRamayana,namun tak diberi batas hanya dengan pakem (standard) tersebut, ki dalangdapat juga memainkan lakon carangan (gubahan). Beberapa kisah diambil dari kisah Panji.

SEJARAH

Wayang kulit ialah seni peragaan yang sudah berusia lebih dari separuh milenium. Kemunculannya memiliki kisah tersendiri, berhubungan dengan masuknya Islam Jawa. Salah satu anggota Wali Songo menciptakannya dengan mengadopsi Wayang Beber yang berkembang pada masa kejayaan Hindu-Budha. Adopsi itu dilaksanakan karena wayang terlanjur lekat dengan orang Jawasampai-sampai menjadi media yang tepat guna dakwah menyebarkan Islam,sedangkan agama Islam melarang format seni rupa. Alhasil, dibuat wayang kulit dimana orang hanya dapat melihat bayangan.

Pagelaran wayang kulit dimainkan oleh seorang yang kiranya dapat disebut penghibur publik terhebat di dunia. Bagaimana tidak, sekitar semalam suntuk, sang dalang memainkan semua karakter aktor wayang kulit yang adalahorang-orangan berbahan kulit kerbau dengan dihias motif hasil kerajinan tatah sungging (ukir kulit). Ia mesti mengolah karakter suara, berganti intonasi, menerbitkan guyonan dan bahkan menyanyi. Bagi menghidupkan suasana, dalang ditolong oleh musisi yang memainkan gamelan dan semua sinden yang mendendangkan lagu-lagu Jawa.

Tokoh-tokoh dalam wayang keseluruhannya berjumlah ratusan. Orang-orangan yang sedang tak dimainkan ditaruh dalam batang pisang yang ada di sekitar sang dalang. Saat dimainkan, orang-orangan akan terlihat sebagaibayang-bayang di layar putih yang terdapat di depan sang dalang. Bayangan itu dapat tercipta sebab setiap peragaan wayang menggunakan lampu minyak sebagai penyinaran yang menolong pemantulan orang-orangan yang sedang dimainkan.

Setiap pagelaran wayang menghadirkan cerita atau lakon yang berbeda. Ragam lakon terbagi menjadi 4 kelompok yaitu lakon pakem, lakon carangan, lakon gubahan dan lakon karangan. Lakon pakem memiliki kisah yang seluruhnya bersumber pada perpustakaan wayang sementara pada lakon carangan melulu garis besarnya saja yang bersumber pada perpustakaan wayang. Lakon gubahan tidak bersumber pada kisah pewayangan tetapimenggunakan tempat-tempat yang cocok pada perpustakaan wayang,sementara lakon karangan sepenuhnya mempunyai sifat lepas.

Cerita wayang

Cerita wayang bersumber pada sejumlah kitab tua contohnya Ramayana, Mahabharata, Pustaka Raja Purwa dan Purwakanda. Kini, pun ada buku-buku yang memuat lakon gubahan dan karangan yang sekitar ratusan tahun telahdigemari masyarakat Abimanyu kerem, Doraweca, Suryatmaja Maling dan sebagainya. Diantara semua buku tua yang dipakai, Kitab Purwakanda ialah yang sangat sering dipakai oleh dalang-dalang dari Kraton Yogyakarta. Pagelaran wayang kulit dibuka ketika sang dalang telah menerbitkan gunungan. Sebuah pagelaran wayang semalam suntuk gaya Yogyakarta dipecah dalam 3 babak yang mempunyai 7 jejeran (adegan) dan 7 adegan perang. Babak kesatu, dinamakan pathet lasem, mempunyai 3 jejeran dan 2 adegan perang yang diiringi gending-gending pathet lasem. Pathet Sanga yang menjadi babak kedua mempunyai 2 jejeran dan 2 adegan perang, sedangkan Pathet Manura yang menjadi babak ketiga memiliki 2 jejeran dan 3 adegan perang. Salah satu unsur yang sangat dinanti tidak sedikit orang padamasing-masing pagelaran wayang ialah gara-gara yang menyajikan guyonan-guyonan khas Jawa.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *